Asal dia soleh, (seharusnya) cukup

Sebuah dialog imajiner antara dua sahabat wanita

(-) : Ceritakan padaku tentang kriteria suami pilihan
(+) : Rosul sudah mengajarkan empat kriteria, yaitu fisik, keluarga baik-baik, kaya, dan soleh. Tapi kesolehan adalah yang utama

(-) : Tapi itu semua relatif
(+) : Ya memang, kalau menurut pandangan kita, karena sebenarnya tidak ada yang mutlak terbaik, yang ada hanya orang yang terbaik untuk kita, dan Allah Maha Mengetahui hal itu. Apa yang menurut kita baik untuk kita, belum tentu menurut Allah begitu, dan sebaliknya, yang menurut kita baik bisa jadi menurut Allah tidak baik, dan Allah Maha Benar.

(-) : Bagaimana kalau dia tidak tampan?
(+) : Asal dia soleh ….dia akan mengerti bahwa kebersihan sebagian dari iman dan bahwa Allah Yang Maha Indah menyukai keindahan, maka dia akan selalu berusaha menjaga penampilan, bersikap lemah lembut, tersenyum jika engkau menatapnya, dan memakai apa yang engkau sukai.

(-) : Meski pendidikannya di bawahmu?
(+) : Asal dia soleh… dia akan mengerti bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa tingkat di atas orang-orang yang tidak berilmu, sehingga dia akan terus belajar, membekali dirinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat dan menggunakannya di jalan Allah.

(-) : Meski kekayaannya di bawahmu?
(+) : Asal dia soleh…. dia akan paham bahwa seorang imam punya kewajiban menafkahi keluarga lahir dan batin, sehingga dia akan bekerja keras mencari nafkah, berusaha memberikan penghidupan yang lebih baik bagi keluarganya dari jalan yang halal.

(-) : Meski dia dari keluarga penjahat?
(+) : Asal dia soleh…. dia akan mengetahui yang haq dan yang bathil, dan akan memilih jalan yang diridhoi Allah

(-) : Jadi… asal dia soleh, itu cukup?
(+) : Seharusnya cukup, insya Allah.

—–
29/4/2010

To my dearest hubby, happy 5th month anniversary :) luv u…^_^

air di tempayan

“Bad look day”

Itu yang jadi status IM-ku seminggu kemarin. Mata yang panas hingga terasa bengkak, hidung kemerahan yang setengah menit sekali harus kubersit dengan tissue, suara sengau nggak kalah merdu dengan nyanyian kodok… yeah, I felt so pretty :p. Melewatkan long weekend dengan bekerja, sering kehujanan, dan kondisi badan yang sedang drop tampaknya jadi penyebab  flu yang seminggu ini betah bercokol di badanku. Dan entah karena pengaruh PMS atau 3 novel sad ending yang baru kulahap beberapa hari sebelumnya,perasaanku pun jadi lebih sensitif dari biasanya.

bright starPernah dengar sympathy hurts? Kalimat itu kutanyakan pada salah seorang teman di layar chatting. Tidak salah kalau dia tidak tahu. Kucoba searching pun, hasilnya tidak memuaskan. Aku sendiri mendapatkan terminologi itu dari salah satu novel yang kubaca. Sympathy hurts artinya suatu kondisi dimana seseorang tiba-tiba merasakan sakit tanpa sebab dikarenakan orang yang dia sayangi juga tengah jatuh sakit. Biasanya ini terjadi pada dua orang yang memiliki hubungan emosiaonal sangat erat, misalnya antara saudara kembar, ibu dan anak, atau…lovers.

Tiba-tiba saja aku bertanya-tanya. Saat aku tengah sakit begini,  adakah seseorang… di luar sana… yang mengalami sympathy hurts… karenaku? Atau… tidak perlulah ikut merasakan demam, kepala nyeri atau tenggorokan sakit seperti aku,-aku juga tentu tidak menginginkan siapa pun sakit karena aku-, cukup firasat saja… just a hunch… that something is happening to me…? Its kinda…. sweet, I think. Ugh, dasar novel menyebalkan, aku jadi berandai-andai begini gara-gara baca soal sympathy hurts itu…

And of course… kelihatannya untuk saat ini aku tidak cukup beruntung untuk hal itu. Tidak ada seorang pun yang muncul dan mengaku ikutan sakit karena aku sakit :D

But then again, aku melihat lebih dekat. Ada hal-hal yang membuatku tercekat.

Saat aku pulang meliput acara potong qurban di kantor,  tumpukan pakaian kotor yang menggunung di sudut kamarku karena aku belum sempat mencuci selama dua minggu (plis deh, jangan melotot begitu) ternyata raib. Dicuci ayahku. Karena kasihan melihatku tetap bekerja di long weekend meski dalam keadaan sakit.

Di kantor, aku yakin aku tampak lebih kacau dari mejaku yang berantakan. Satu bungkus tissue besar sudah habis sebelum aku menyelesaikan satu artikel yang biasanya mampu kuselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam. Dan aku ngMC dengan konsentrasi pecah dan suara bindeng, sangat tidak merdu.

Bosku yang baik hati akhirnya tidak tahan. Disuruhnya aku istirahat lagi, setelah tiga hari sebelumnya cuti sakit. “Obat yang paling mujarab untuk flu hanya istirahat. Sudahlah, tidak usah masuk besok, nanti aku absenin deh…” bujuknya. Bosku tahu, aku paling sebal antri di Poliklinik (supaya aku dapet surat sakit legal), dan aku sangat suka melihat catatan absensiku yang nyaris sempurna :p. Bayangkan, ada manajer yang mau meng-absen-kan stafnya! Dan akhirnya, dengan senang hati dan sedikit terharu kuikuti juga sarannya.

Pulangnya, tumben ayahku bisa on time. Biasanya dia tidak mau kalah dariku, hampir selalu pulang kerja di atas magrib. Tapi hari itu pengecualian. “Papa disuruh pulang sore sama Pak Herlan”, jelasnya di mobil. Pak Herlan adalah salah satu manajer di loker ayahku. “Kasian, Nining lagi sakit, biar cepet istirahat, katanya”, ayahku meneruskan bercerita. Aku sempat bengong. Pak Herlan tahu aku sakit? Kami bahkan sangat jarang bertemu karena tidak satu gedung. Kuingat-ingat lagi, rasanya aku memang melihat wajah manajer yang dikenal sedikit keras itu di forum meeting di mana aku jadi MC dengan suara bindeng kemarin. Ah, ternyata dari situ dia tahu aku sakit. Ada sensasi aneh di hatiku. Dia bukan atasan langsungku, kenal dekat pun tidak, dan hanya sekilas mendengar suaraku yang sedang sengau, tapi dia bisa begitu peduli menyarankan ayahku untuk pulang ontime supaya aku juga bisa istirahat lebih banyak.

Sweet things… I guess.

Ibarat pepatah “Mengharap hujan di langit, air di tempayan dicurahkan”. Itulah yang sempat kulakukan beberapa hari sebelumnya. Mengharap hal-hal semi-ajaib seperti sympathy hurts, padahal ada begitu banyak hal-hal manis yang kuterima, memberi kehangatan tersendiri bagi hatiku. Kusadari, ternyata ada begitu banyak “air di tempayan” di sekelilingku, yang terlalu berharga untuk kucurahkan begitu saja, padahal suara guruh di langit itu belum tentu jadi hujan seperti yang kuharapkan.

******

Tentang Kamu

riakku tak bisa menebak
ku tak bisa membaca
tentang kamu
tentang kamu

So sudden, seperti hujan yang turun mendahului awan, seperti angin yang mendadak berhembus, seperti itulah kamu datang. Well, aku tau kamu bukan jelangkung :p, tapi begitulah kamu, datang tanpa kuundang. Siapa kamu? Yang muncul di hadapanku saat aku tidak berharap. Siapa kamu? Yang memberi riak saat hatiku tengah tenang. Siapa kamu? Yang mengisi kesadaranku saat ku tak ingin merasa.

kau buat ku bertanya
slalu dalam hatiku
tentang kamu
tentang kamu

Kamu seperti laut yang tak pernah berani kutebak berapa dalamnya. Kamu mirip angin yang tak pernah bisa kukira akan berhembus ke arah mana. Kamu seperti tembok yang sepertinya tak pernah mampu kutembus permukaannya. Dan kamu… tidak mau kalah dengan nilai tukar rupiah : sangat fluktuatif :) . Kadang kamu begitu dekat saat jarak memisahkan kita, namun di saat lain kamu begitu jauh ketika tanganmu bisa menjangkauku.

[reff]
bagaimana bila akhirnya ku cinta kau
dari kekuranganmu hingga lebihmu
bagaimana bila semua benar terjadi
mungkin inilah yang terindah

Kamu, jelas bukan pria yang paling perhatian padaku. Kamu, mungkin bukan pria yang pernah berkorban segala-galanya untukku. Kamu, pastinya bukan pria terganteng dalam hidupku. Dan kamu… tidak diragukan lagi, bukan pria yang selalu ada saat kuingin kamu ada. Aku tahu kamu pria lurus, tapi aku nggak tahu apakah kamu akan berjalan lurus ke arahku atau tidak. Aku yakin kamu pria yang serius, tapi aku tidak yakin seberapa seriusnya kamu padaku. Aku mengerti kamu tengah mengejar masa depanmu, but hey… sebenarnya siapa yang kamu bayangkan ada di masa depanmu?

begitu banyak bintang
seperti pertanyaanku
tentang kamu
tentang kamu*

 *Lirik : Tentang Kamu by Bunga Citra Lestari

******

was a friend

single treeSeorang teman berduka minggu kemarin, dan mungkin masih hingga sekarang. Dia kehilangan seorang teman. Well, tepatnya dia dihilangkan dari daftar teman oleh seseorang yang dianggapnya teman. Aku sampai ternganga ketika temanku itu cerita tentang musibah yang dialaminya, -kehilangan teman bisa dianggap musibah kan? Nggak sampai rasanya akalku memikirkan bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa ‘mencampakkan’ temannya hanya karena masalah perbedaan persepsi yang tidak terlalu prinsip. Maksudku, boleh-boleh aja sih kalau membuang teman karena dia jadi kriminil, atau karena dia betul-betul menyakiti kita sampai melebihi batas yang wajar sesuai norma perikemanusiaan… hallah! :D . Tapi kalau sampai berkata “Mulai besok tidak ada nama kamu lagi di hidupku” hanya karena si teman berusaha jujur dengan perasaannya…. well, thats too much, I guess.

Temanku itu bukannya cari gara-gara dengan berusaha jujur pada perasaannya. However, menjadi dekat dan menerima perhatian yang luar biasa dari seorang teman lawan jenis yang sudah menikah, tentu bukan suatu hal yang kita alami setiap hari kan? Orang bilang, dalamnya lautan bisa ditebak, tapi dalamnya hati siapa yang tahu? Dan “bermain-main” dengan orang yang statusnya tidak lagi sendiri jelas merupakan pilihan terakhir bagi temanku itu. Menyadari bahwa perasaannya telah berubah, ditambah lagi dengan sejarah si teman lawan jenis yang dahulu memang sempat menyimpan rasa padanya, temanku pun akhirnya berusaha bersikap tegas. Ia secara terus terang mengungkapkan bahwa perasaannya terpengaruh oleh perhatian-perhatian di cowo yang luar biasa, dan meminta agar si cowo menghentikan itu semua dan bersikap biasa saja padanya. Si cowo berkeras bahwa perasaannya sudah hilang dan segala perhatiannya selama ini adalah sesuatu yang wajar layaknya seorang teman biasa. Hmm, bisakah sesuatu seperti menelepon berjam-jam di larut malam dan melacak keberadaan seseorang hingga ke jadwal penerbangannya dianggap “biasa-biasa”? Ditambah lagi ia terkesan sembunyi-sembunyi dari pasangannya setiap kali sedang menelepon atau bertemu dengan temanku.

Akhirnya, kata-kata itu pun keluar dari mulutnya. Bukannya memaklumi dan membantu temanku menetralisir hatinya, dia malah memilih tidak lagi berteman dengannya. Aneh? Menurutku sih begitu…

Aku jadi ingat salah satu temanku di bangku kuliah dulu. Dia pintar, sangat friendly, dan jatuh cinta pada teman kami yang putri jenderal. Aku tidak tahu cerita detilnya, yang jelas cinta temanku pada putri sang jenderal itu bertepuk sebelah tangan. Dan menjauh adalah jalan yang dipilihnya. Aku sempat protes tidak setuju pada sikapnya waktu itu. Di otakku, menjauh setelah cinta ditolak adalah sesuatu yang menggelikan, pengecut, tidak sportif. Kalau belum pernah ditolak, bukan cowo namanya! Begitu dalihku kejam.

Temanku cuma tersenyum. “Nggak semua orang sekuat itu Ning”, katanya. Ia lalu menjelaskan, daripada tidak bisa dekat dengan cara yang diinginkannya, lebih baik menjauh sama sekali. Karena berada dekat dengan orang yang diinginkan, tanpa kesempatan untuk memiliki, tanpa peluang untuk mengekpresikan sayang, sama saja dengan mengiris hatinya sedikit demi sedikit. Aku membayangkan, mungkin seperti anak kecil yang melihat kue tart di etalase toko, namun tidak punya kesempatan untuk membeli dan menikmati lezatnya, barangkali memang lebih baik pulang saja. Jika ia berkeliaran di seputar etalase itu, ia tidak hanya akan terus memandang si kue, tapi juga mencium harumnya, dan bagaimana perasaannya melihat kue itu akhirnya dinikmati oleh orang lain? Ah… ya ya ya, mungkin terkadang “menjauh” memang lebih baik. Bukan karena tidak sportif, tapi demi kesehatan psikologis kita.

Aku bertanya-tanya, mungkinkah ini yang sebetulnya terjadi pada temanku di cerita yang pertama tadi? Si cowo menyadari bahwa dia tidak bisa menjadi dekat, menjadi teman, tanpa memberi perhatian lebih, tanpa menunjukkan sayang, tanpa memperlihatkan kepedulian yang dalam. Jadi, daripada tersiksa, lebih baik menjauh saja sekalian, lebih baik tidak kenal sama sekali. Bagaimana pun, setiap orang punya definisi yang berbeda tentang bagaimana seharusnya memperlakukan teman. Dan mungkin memang lebih baik kehilangan seorang teman, daripada kehilangan kehormatan dan seluruh hidup kita.

Be strong my friend :)

******

Reaksi Lambat

Jadi officer PR memang tidak pernah mampir di alam cita-citaku sejak dulu. Dan kuliah di Fikom, tidak serta merta membuatku bahkan melirik job yang satu ini. Bukan hanya karena profesi ini identik dengan dunia gemerlap dan external beauty, namun juga karena aku sadar betul bahwa rasanya aku tidak memiliki beberapa kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi PR sehandal yang ada di otakku. Misalnya saja soal kecepatan. Orang dengan profesi yang satu ini dituntut memiliki reaksi cepat akan banyak hal. Well, sementara pembawaanku dari lahir rasanya tidak sesigap itu. Aku pribadi sih mengkategorikannya sebagai “anggun”, tapi ibuku dengan kejamnya memvonis “itu bukannya anggun, tapi klemar-klemer (bhs Jawa = lelet)”. Ugh!

Dan lagi-lagi itu yang terjadi saat aku meliput event balap sepeda keliling Jawa-Bali yang disponsori oleh perusahaan tempatku mengais nafkah kemarin. Event ini diikuti oleh atlit-atlit balap sepeda dari dalam dan luar negeri, maka wajar jika cukup banyak media massa yang terlibat dalam eksposnya. Kalau sudah harus meliput di event besar seperti ini, aku hampir selalu minder. Tidak hanya karena “alat perang” yang kutenteng sangat standar -Nikon D60- dan jauh lebih terbatas dibanding yang ditenteng para wartawan dan fotografer profesional yang berkeliaran di event tersebut, tapi juga karena perawakanku yang juga standar. Dengan tinggi badan tidak lebih dari 160 cm, aku hampir selalu kesulitan berebut posisi strategis untuk mendapat angle foto paling bagus. Belum lagi cuaca panas kota Cirebon di siang hari terik yang membakarku sementara menunggu para peserta mencapai garis finish di depan balaikota Cirebon. Rasanya ingin kuingkari betapa aku mendadak jadi kikuk sendiri, tidak nyaman dengan situasi ini.

Untunglah sun glasses-ku mampu menyamarkan pandanganku yang nanar mengamati para wartawan profesional yang berseliweran. Mereka begitu muda, energik, tampak profesional dengan segala kesigapannya…. kerenlah pokoknya. Ugh, bikin sirik aja! Mungkin saking terpesonanya, aku lupa memegangi kamera yang tergantung di pinggangku dengan tangan. Dan betul saja… Dukk! Tiba-tiba sesuatu yang keras menyenggol lensa kameraku. Spontan aku mengaduh setengah menjerit, ngeri membayangkan apa yang terjadi andai kameraku kenapa-napa.

“Sori…sori mbak!” ada lengan yang terulur menyentuh kameraku dari sosok jangkung yang rasanya tadi memang melintas di depanku. Disentuhnya sedetik kamera yang masih menggantung di pinggangku. “Sori ya mbak…” ulangnya bersungguh-sungguh. Aku jadi sadar bahwa aku belum menjawab permintaan maafnya yang pertama, saking kagetnya dan khawatir kameraku kenapa-napa. Dia tampak terburu-buru, jadi langsung berlalu begitu aku memaksakan senyum dan menjawab “oke”. Kupelototi dengan iri kamera berlensa tele panjang yang menggantung di bahunya. Hmm, fotografer beneran rupanya…

Malamnya, dengan mata sembab karena kantuk dan kepanasan seharian, aku berkutat di media center mem-publish berita hari itu. Dengan konsentrasi terbagi, kudengar selintas managerku memanggil dari belakang meminjam pulpen. Sambil memelototi foto-foto yang tengah kutransfer di komputer, korogoh2 tas mencari pulpen dan lalu menghampiri bosku untuk menyerahkan pulpen itu. Setengah bingung, kutatap bosku yang lalu menyodorkan pulpen itu ke sosok di sebelahnya. “Mas ini mau pinjem”, katanya tersenyum padaku lalu kembali menatap komputernya. Pandanganku beralih ke cowok yang sedang memegang pulpenku. “Pinjem ya mbak..?” tanyanya sopan. Aku hanya tersenyum dan mengangguk, tidak yakin apakah sempat mengucapkan “silakan” atau tidak, lalu buru-buru kembali ke kursiku. Entahlah apakah sikapku yang tidak sopan ini karena reaksi lambat atau benar-benar karena harus menyelesaikan tugasku secepatnya.

Tidak terlalu lama, aku masih menunggu proses upload berita selesai, ketika sudut mataku menangkap cowok itu bergerak menghampiriku. “Mbak, ini pulpennya”, ia setengah membungkuk mengulurkan pulpenku. Rasanya sikap badan yang terlalu berlebihan untuk sekedar berterima kasih.  ”Terima kasih ya… mmm, mbak siapa?” tanyanya ramah. Baru kutatap sungguh-sungguh wajahnya. Kulitnya terang dan bersih, rambut hitam cepak. Pakaiannya santai dengan celana bermuda sebetis. Mata setengah sipit namun ramah itu memandangku intens. Seketika kurasakan wajahku menghangat, -reaksi yang berlebihan. Kusebut namaku singkat. “Oh, terima kasih ya mbak Nining”, tegasnya lagi sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan “sama-sama” menekukkan bibirku dengan kaku, berpikir dengan bingung apa perlunya bertanya nama kalau hanya untuk mengembalikan pulpen. Dan dia pun berlalu.

“Wartawan metro tv lho dia…” tiba-tiba suara managerku muncul di balik bahuku. “Lumayan juga ya…?” lanjutnya. Bisa kulihat nada dan senyum menggoda dari bosku. Aku hanya nyengir dan pura-pura kembali ke komputer. Dalam hati aku mengeluh panjang pendek. Setuju pada bosku dan menyesali reaksiku yang lambat dan bodoh itu, sama sekali tidak membuka jalan untuk apa pun. Kudengar sebuah suara di pikiranku mencela, pantesan aku masih sendiri sampai sekarang!

Besoknya, aku kembali bersiap-siap dengan kamera di sekitar garis finish kemarin yang sekarang sudah diganti menjadi gapura start untuk etape lomba selanjutnya. Cirebon luar biasa, hari masih jam 8-an, mendung pula, tapi keringatku sudah bercucuran saking panasnya. Sambil menunggu, aku duduk di kursi yang berjajar di samping panggung pendek tempat para pemenang menerima penghargaan nanti. Kepalaku menengok ke kiri, menembus panggung dan mengamati situasi di tenda kehormatan di sisi lain panggung.

“Kameranya nggak apa-apa?” Sepertinya pertanyaan itu ditujukan padaku. Baru aku sadar ada sosok jangkung yang bediri di dekat panggung, persis di arah mataku memandang. Ah, rupanya si jangkung dengan lensa tele canggih yang menyenggol kameraku kemarin. Tanpa mendekat dan tetap duduk, aku tersenyum dan menggeleng. Reaksi yang jauh dari ramah, aku sadar itu. Dia mengangguk, mengelus kameranya dan kelihatannya bernapas lega. “Sori ya…” lagi-lagi dia minta maaf sambil memandangku. Aku hanya tersenyum, mengangguk, dan menjawab singkat. ”Nggak apa-apa”.

Dengan santai dia pun duduk di pinggir panggung, tidak jauh dariku. Kugunakan kesempatan dia mengalihkan pandangan untuk duduk itu dengan mengalihkan pandanganku juga. So, obrolan itu pun berhenti sampai di situ. Rasanya aneh sekali, jarak kursiku dengan dia hanya sekitar 3 meter, tadinya ada percakapan dan sekarang saling diam. Aku tidak kenal dia, dan mungkin tidak harus kenal, tapi saling berdiam diri seperti ini? Aku tidak nyaman.

Pergerakan di tenda VIP memancing perhatianku. Dan aku terpaksa melewati panggung untuk ke sana. Kugamit lengan Hanna, mengajaknya ke tenda VIP, melewati cowo itu. Aku berjalan di sisi kanan, Hanna di sisi kiriku, menjadi penghalang antara aku dan panggung, antara aku dan dia. Silly, rite? Aku merasakan betapa tidak naturalnya aku.

Aku stand by di tenda VIP, menunggu kehadiran para pejabat. Kuedarkan pandangan dan tetap tidak menemukan dia yang semalam menanyakan namaku di media center. Hanna memutuskan untuk beredar, mencari Artemy Timofee, peserta asal Rusia yang berhasil mencuri hatinya kemarin :p. Beberapa menit kemudian, kudapati Hanna ngobrol dengan si jangkung berkamera canggih itu.

Di perjalanan pulang ke Bandung, Hanna menyampaikan sekali lagi permintaan maaf dari penyenggol kameraku kemarin. Aku mendengus, kesal pada diriku sendiri. Kelihatannya aku tidak memberi kesan baik di matanya. Sepertinya dia tidak yakin kameraku benar-benar tidak apa-apa dan aku benar-benar tidak marah.

Hhh…. Me and my slow reaction…

******

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.