“Bad look day”
Itu yang jadi status IM-ku seminggu kemarin. Mata yang panas hingga terasa bengkak, hidung kemerahan yang setengah menit sekali harus kubersit dengan tissue, suara sengau nggak kalah merdu dengan nyanyian kodok… yeah, I felt so pretty :p. Melewatkan long weekend dengan bekerja, sering kehujanan, dan kondisi badan yang sedang drop tampaknya jadi penyebab flu yang seminggu ini betah bercokol di badanku. Dan entah karena pengaruh PMS atau 3 novel sad ending yang baru kulahap beberapa hari sebelumnya,perasaanku pun jadi lebih sensitif dari biasanya.
Pernah dengar sympathy hurts? Kalimat itu kutanyakan pada salah seorang teman di layar chatting. Tidak salah kalau dia tidak tahu. Kucoba searching pun, hasilnya tidak memuaskan. Aku sendiri mendapatkan terminologi itu dari salah satu novel yang kubaca. Sympathy hurts artinya suatu kondisi dimana seseorang tiba-tiba merasakan sakit tanpa sebab dikarenakan orang yang dia sayangi juga tengah jatuh sakit. Biasanya ini terjadi pada dua orang yang memiliki hubungan emosiaonal sangat erat, misalnya antara saudara kembar, ibu dan anak, atau…lovers.
Tiba-tiba saja aku bertanya-tanya. Saat aku tengah sakit begini, adakah seseorang… di luar sana… yang mengalami sympathy hurts… karenaku? Atau… tidak perlulah ikut merasakan demam, kepala nyeri atau tenggorokan sakit seperti aku,-aku juga tentu tidak menginginkan siapa pun sakit karena aku-, cukup firasat saja… just a hunch… that something is happening to me…? Its kinda…. sweet, I think. Ugh, dasar novel menyebalkan, aku jadi berandai-andai begini gara-gara baca soal sympathy hurts itu…
And of course… kelihatannya untuk saat ini aku tidak cukup beruntung untuk hal itu. Tidak ada seorang pun yang muncul dan mengaku ikutan sakit karena aku sakit
But then again, aku melihat lebih dekat. Ada hal-hal yang membuatku tercekat.
Saat aku pulang meliput acara potong qurban di kantor, tumpukan pakaian kotor yang menggunung di sudut kamarku karena aku belum sempat mencuci selama dua minggu (plis deh, jangan melotot begitu) ternyata raib. Dicuci ayahku. Karena kasihan melihatku tetap bekerja di long weekend meski dalam keadaan sakit.
Di kantor, aku yakin aku tampak lebih kacau dari mejaku yang berantakan. Satu bungkus tissue besar sudah habis sebelum aku menyelesaikan satu artikel yang biasanya mampu kuselesaikan dalam waktu kurang dari satu jam. Dan aku ngMC dengan konsentrasi pecah dan suara bindeng, sangat tidak merdu.
Bosku yang baik hati akhirnya tidak tahan. Disuruhnya aku istirahat lagi, setelah tiga hari sebelumnya cuti sakit. “Obat yang paling mujarab untuk flu hanya istirahat. Sudahlah, tidak usah masuk besok, nanti aku absenin deh…” bujuknya. Bosku tahu, aku paling sebal antri di Poliklinik (supaya aku dapet surat sakit legal), dan aku sangat suka melihat catatan absensiku yang nyaris sempurna :p. Bayangkan, ada manajer yang mau meng-absen-kan stafnya! Dan akhirnya, dengan senang hati dan sedikit terharu kuikuti juga sarannya.
Pulangnya, tumben ayahku bisa on time. Biasanya dia tidak mau kalah dariku, hampir selalu pulang kerja di atas magrib. Tapi hari itu pengecualian. “Papa disuruh pulang sore sama Pak Herlan”, jelasnya di mobil. Pak Herlan adalah salah satu manajer di loker ayahku. “Kasian, Nining lagi sakit, biar cepet istirahat, katanya”, ayahku meneruskan bercerita. Aku sempat bengong. Pak Herlan tahu aku sakit? Kami bahkan sangat jarang bertemu karena tidak satu gedung. Kuingat-ingat lagi, rasanya aku memang melihat wajah manajer yang dikenal sedikit keras itu di forum meeting di mana aku jadi MC dengan suara bindeng kemarin. Ah, ternyata dari situ dia tahu aku sakit. Ada sensasi aneh di hatiku. Dia bukan atasan langsungku, kenal dekat pun tidak, dan hanya sekilas mendengar suaraku yang sedang sengau, tapi dia bisa begitu peduli menyarankan ayahku untuk pulang ontime supaya aku juga bisa istirahat lebih banyak.
Sweet things… I guess.
Ibarat pepatah “Mengharap hujan di langit, air di tempayan dicurahkan”. Itulah yang sempat kulakukan beberapa hari sebelumnya. Mengharap hal-hal semi-ajaib seperti sympathy hurts, padahal ada begitu banyak hal-hal manis yang kuterima, memberi kehangatan tersendiri bagi hatiku. Kusadari, ternyata ada begitu banyak “air di tempayan” di sekelilingku, yang terlalu berharga untuk kucurahkan begitu saja, padahal suara guruh di langit itu belum tentu jadi hujan seperti yang kuharapkan.
******
Filed under: Daily, my stories | 1 Comment »