…dan aku pun merasa cukup

di depan Masjidil Haram

Bisa bermunajat cukup lama di raudhah membuat perasaanku jauh lebih baik. Terutama karena tak kualami hal-hal yang mengesalkan selama berdesak-desakan dengan ratusan muslimah di tempat yang dijanjikan mustajab tersebut. Dengan ketatnya penjagaan para askar bercadar dan beragamnya tabiat para pengunjung yang berasal dari berbagai negara itu, orang seringkali mengeluh karena bermacam hal, seperti kepala yang tersenggol kaki orang lain saat tengah sujud, jatuh tersungkur karena terdorong orang lain, bahkan anggota badan yang ngilu atau memar karena tersikut orang lain. Kadang sungguh aneh memandang fenomena ini, demi mendapatkan kesempatan bermunajat di tempat mustajab, kadangkala kita lupa bahwa yang tengah kita sikut dan kita dorong itu adalah saudara sendiri, seiman dan sekeyakinan, yang cintanya pada Allah dan Rosulnya sama dengan kita, dan yang barangkali masalah hidupnya jauh lebih berat daripada kita. Wallahu’alam.

Sabtu siang, rombongan kami pun bertolak dari hotel Al Haram Madinah dengan pakaian ihram menuju Mekkah. Seiring menjauhnya bis dari hotel dan Mesjid Nabawi, terasa ada sepotong hati yang tertinggal. Kupandang lekat bangunan Mesjid yang megah dengan sepuluh menaranya yang menjulang tinggi hingga hilang dari pandangan. Belum puas rasanya menyampaikan salam dan bercengkrama dengan Rasulullah dan Sang Rahman di taman surga itu. Aliran bening pun kembali mengalir dari mataku. Selamat tinggal Rasulku tercinta, takkan pudar kerinduan ini untuk selalu berada di dekatmu.

Allahumma sholli ‘alaa Muhammadin wa ‘alaa aali Muhammadin walaa taj’alhu aakhori ‘ahdi binabiyyika wakhuttho awzhaariibini yaa rotihii wa ash hibnii fii safariis salaamata wa yassir rujuu’ii ilaa ahlii wa wathonii saaliman yaa arhamarrohimiin.

Ya Allah berilah rahmat kepada nabi Muhammad dan keluarganya dan janganlah menjadikan kunjungan ini penghabisan janjiku dengan Nabi-Mu, hapuskanlah segala dosa itu dengan menziarahkannya dan bekalilah aku keselamatan dalam pengalamanku serta mudahkanlah pulangku ini menuju ahli keluargaku dan tanah airku, dengan selamat, wahai Tuhan yang Maha pengasih dari segala yang Pengasih.

Perjalanan Medinah-Mekkah yang berjarak kurang lebih 450 km sempat terpotong oleh persinggahan kami di Mesjid Bir Ali untuk mengambil miqot. Sepanjang perjalanan yang menurut muthawif, Uztad Asnawi yang baru saja menyelesaikan S1nya di Madinah, merupakan jalur hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah, yang mendominasi pemandangan adalah padang tandus gersang. Tak terbayang rasanya ketika dahulu Rasulullah menempuh perjalanan sejauh ini hanya berkendaraan seekor unta, menembus teriknya panas matahari dan dinginnya angin gurun di malam hari, berpacu dengan ancaman kaum Quraisy yang mengincar kepalanya, demi menegakkan kalimat Allah.

Berbeda dengan Nabawi yang biasanya ditutup pada jam 12 malam, Masjidil Haram open for 24 hours. Tak heran ketika rombongan kami tiba di hotel Elaf Kindah yang hanya berjarak 50 meter dari Masjidil Haram pada pukul 10 malam, suasana masih sangat ramai. Orang sibuk berlalu lalang dari dan menuju Masjidil Haram. Setelah menikmati makan malam dan mengurus bagasi, tepat jam 12 malam, akhirnya rombongan kami melangkah memasuki pintu 1 King Abdul Aziz Masjidil Haram untuk melanjutkan prosesi umroh.

Menapakkan kaki di lantai marmer putih halaman Masjidil Harawalau mata sembab, harus diabadikan donkm benar-benar memberikan sensasi tersendiri buatku. Kunikmati sungguh-sungguh setiap jengkal pemandangan yang mampu tertangkap oleh mataku. Pantulan cahaya lampu ke dinding marmernya yang bercorak putih keabuan membuat bangunan yang terlihat dari bulan ini di mataku tampil sangat agung di tengah kelamnya malam. Begitu masuk Babussalam, yaitu nama pintu ke 24 di Masjidil Haram di mana disunnahkan memasuki Masjidil Haram melalui pintu tersebut sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah, mataku langsung tak berkedip memandang Ka’bah di pelataran dalam Mesjid. Subhanallah… seperti mimpi rasanya, akhirnya kakiku berhasil juga menapaki tempat suci ini, tempat di mana segala kebaikan yang dilakukan di dalamnya mendapat balasan 100.000 kali lipat.

Pemandangan Ka’bah dalam balutan kiswah hitamnya dengan latar belakang langit kelam, dan kemudian bersaput pakaian ihram putih para jemaah yang tengah melakukan tawaf di atas marmer putih, bagiku sungguh merupakan hal yang mahal. Sejumput keharuan, segumpal kerinduan, dan setumpuk rasa syukur membuncah memenuhi rongga dadaku. Sambil tawaf dan bertasbih, mataku tak puasnya memandangi Ka’bah yang selama ini menjadi kiblat shalatku dan shalat seluruh kaum muslim di dunia. Berada di tempat paling suci, dengan orangtua dan adik-adik di sekelilingku, sungguh tak kurasakan lagi berbagai beban yang terasa menghimpit di kehidupanku di tanah air. Aku yang datang dengan seribu hajat, setumpuk beban duniawi, dan sejumlah luka hati, saat itu seolah hanya mampu merasakan kebahagiaan yang langka. Seluruh hajat, beban, dan luka hati itu mendadak tak lagi kurasakan lebih penting daripada memunajatkan taubat dan syukur atas kehadirkanku di rumahNya. Tiba-tiba saja pada saat itu aku merasa Allah telah mencukupkan nikmatNya untukku. Dan perasaan seperti ini adalah keajaiban terbesar yang kurasakan dari perjalanan ini.

Dan akhirnya doa yang paling sering kupanjatkan di setiap kesempatan adalah agar Allah secepatnya memanggilku kembali ke Baitullah bersama orang-orang yang kucintai… Amin, Insya Allah.

******

 

 

One Response

  1. subhanallah… mudahan bisa juga mampir k baitullah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.