Hari kedua di Mekkah, kami pun melakukan city tour dengan menziarahi beberapa tempat yang memiliki arti penting dalam sejarah perkembangan Islam, seperti Jabal Nur yang di puncaknya terdapat Gua Hira tempat Rasulullah biasa berdiam diri sebelum akhirnya beliau menerima wahyu, dan Jabal Rahmah tempat pertemuan kembali Nabi Adam As dengan istrinya setelah ratusan tahun terpisahkan sejak diturunkan ke bumi. Setelah itu kami juga mengunjungi padang Arafah tempat para jemaah haji melakukan wukuf. Dari situ kami bertolak menuju Mesjid Ja’ronah untuk mengambil Miqat Umroh kedua. Beberapa jemaah yang sudah lanjut usia memilih untuk tidak mengambil miqot menimbang bahwa tawaf dan sa’i yang akan kami lakukan berikutnya dilakukan pada waktu ba’da zhuhur, saat panas seakan tengah mencapai puncaknya.
Dan kurasa mereka mengambil keputusan yang benar. Sepanjang putaran tawaf, keringatku deras bercucuran dan mataku hampir tidak bisa membuka saking silaunya menghadapi pantulan busana putih para jemaah dan lantai marmer putih yang memantulkan cahaya matahari. Belum lagi setelah itu masih harus menuntaskan sa’i. Luar biasa rasanya membayangkan tantangan medan saat musim haji tiba.
Menyadari bahwa malam itu adalah malam terakhir kami di Mekkah, betul-betul kunikmati detik demi detik yang berlalu. Aku yang biasanya “raja tidur”, tiba-tiba saat itu sehat walafiat melakukan berbagai aktivitas yang cukup melelahkan dengan berbekal waktu tidur hanya 2-3 jam saja sehari. Maha Suci Allah yang berkenan memberi kekuatan. Kuingat uztad Abussalam, salah satu pembimbing umroh kami mengatakan bahwa Allah menjanjikan 120 rahmat bagi hambaNya yang beribadah di Masjidil Haram. 60 rahmat diberikan kepada mereka yang melakukan tawaf, 40 rahmat untuk mereka yang melakukan ibadah lain seperti shalat, mengaji, zikir, dll, dan 20 rahmat lagi bagi mereka yang hanya duduk diam memandangi Ka’bah. “Luar biasa kan Ka’bah ini, kita hanya memandanginya saja sudah mendapatkan 20 rahmat dari Allah”, katanya lagi.
Esoknya, menjelang bertolak ke Jeddah, shalat zhuhur menjadi shalat terakhir kami di Masjidil Haram. Untuk terakhir kalinya, kusempatkan shalat di Hijir Ismail, serta berdoa di belakang Maqam Ibrahim dan Multazam. Dan entah kenapa, berada di tempat-tempat mustajab ini, airmataku begitu mudahnya tertumpah. Baru membaca istigfar saja, aku sudah tergugu. Ah… andai setiap hari kondisi mentalku selalu seperti ini… begitu menghayati taubat dan syukur. Usai shalat, khusyu kumemohon agar shalat yang baru saja kulakukan bukan shalat terakhirku di Masjidil Haram.
Tawaf wada’ atau tawaf perpisahan kami lakukan ba’da zhuhur. Berbeda dengan hari sebelumnya, kali ini langit sedikit mendung. Dan ini semakin mendramatisasi saat-saat terakhirku di rumahNya. Kupandang lekat-lekat Ka’bah sepanjang putaran tawaf, memohon agar Allah tidak menjadikan tawaf ini sebagai tawaf terakhir di sepanjang sisa hidupku. Dan akupun kembali tergugu ketika uztadzah Farida memimpin kami berdoa usai tawaf dengan permohonan yang sama, agar Allah segera memanggil kami kembali ke Baitullah dalam keadaan yang lebih baik bersama orang-orang tercinta. Kulangkahkan kaki keluar dari Masjidil Haram dengan sesekali menengokke belakang memuaskan dahagaku memandang Ka’bah. Kukenang saat pertama menginjakkan kaki di halaman marmer putih ini 3 hari lalu tepat tengah malam, saat-saat terindah dalam hidupku. Dan kini dalam hitungan menit akan kutinggalkan tempat suci ini, tempat saat aku betul-betul merasa tidak bersekat denganNya, dan ‘kan berlalu saat-saat indah itu, saat Ia mencukupkan nikmatNya untukku. God, I miss it already…
Perjalanan ke Jeddah untuk menziarahi Mesjid Qishash dan
Mesjid Terapung di Laut Merah kulalui dengan sebagian hati dan pikiran masih tertinggal di Mekkah. Tiba-tiba saja aku menjadi iri pada Fahmi dan Zainy, dua orang muthawif asal Jatim yang sudah seperti keluarga bagiku selama umroh, karena profesi mereka sebagai muthawif membuat mereka bisa sewaktu-waktu berkunjung ke Mesjid Nabawi dan Masjidil Haram. Ketika keesokan malamnya pesawat take off di Bandara King Abdul Aziz Jeddah untuk membawa kami kembali ke tanah air, air mataku kembali menetes. Kutatap kerlip indah Kota Jeddah yang semakin menjauh di bawah sana dengan seuntai doa… Ya Allah, kunanti panggilan itu kembali dariMu…
******
Filed under: Daily
subhanallah..kegalauan dan perasaan yang sama saat aku mengunjugi tanah itu, semoga suatu saat kita dipanggil kembali kesana. amein
wasallam
rina hasan
Amiiiiiinnn….:) mari saling mendoakan…
Thanks sudah berkunjung
AmiEnn MUDAHAN Q juga Ye
Amiiiiiiiiiiiiiiiiiiin,,,