Jadi officer PR memang tidak pernah mampir di alam cita-citaku sejak dulu. Dan kuliah di Fikom, tidak serta merta membuatku bahkan melirik job yang satu ini. Bukan hanya karena profesi ini identik dengan dunia gemerlap dan external beauty, namun juga karena aku sadar betul bahwa rasanya aku tidak memiliki beberapa kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi PR sehandal yang ada di otakku. Misalnya saja soal kecepatan. Orang dengan profesi yang satu ini dituntut memiliki reaksi cepat akan banyak hal. Well, sementara pembawaanku dari lahir rasanya tidak sesigap itu. Aku pribadi sih mengkategorikannya sebagai “anggun”, tapi ibuku dengan kejamnya memvonis “itu bukannya anggun, tapi klemar-klemer (bhs Jawa = lelet)”. Ugh!
Dan lagi-lagi itu yang terjadi saat aku meliput event balap sepeda keliling Jawa-Bali yang disponsori oleh perusahaan tempatku mengais nafkah kemarin. Event ini diikuti oleh atlit-atlit balap sepeda dari dalam dan luar negeri, maka wajar jika cukup banyak media massa yang terlibat dalam eksposnya. Kalau sudah harus meliput di event besar seperti ini, aku hampir selalu minder. Tidak hanya karena “alat perang” yang kutenteng sangat standar -Nikon D60- dan jauh lebih terbatas dibanding yang ditenteng para wartawan dan fotografer profesional yang berkeliaran di event tersebut, tapi juga karena perawakanku yang juga standar. Dengan tinggi badan tidak lebih dari 160 cm, aku hampir selalu kesulitan berebut posisi strategis untuk mendapat angle foto paling bagus. Belum lagi cuaca panas kota Cirebon di siang hari terik yang membakarku sementara menunggu para peserta mencapai garis finish di depan balaikota Cirebon. Rasanya ingin kuingkari betapa aku mendadak jadi kikuk sendiri, tidak nyaman dengan situasi ini.
Untunglah sun glasses-ku mampu menyamarkan pandanganku yang nanar mengamati para wartawan profesional yang berseliweran. Mereka begitu muda, energik, tampak profesional dengan segala kesigapannya…. kerenlah pokoknya. Ugh, bikin sirik aja! Mungkin saking terpesonanya, aku lupa memegangi kamera yang tergantung di pinggangku dengan tangan. Dan betul saja… Dukk! Tiba-tiba sesuatu yang keras menyenggol lensa kameraku. Spontan aku mengaduh setengah menjerit, ngeri membayangkan apa yang terjadi andai kameraku kenapa-napa.
“Sori…sori mbak!” ada lengan yang terulur menyentuh kameraku dari sosok jangkung yang rasanya tadi memang melintas di depanku. Disentuhnya sedetik kamera yang masih menggantung di pinggangku. “Sori ya mbak…” ulangnya bersungguh-sungguh. Aku jadi sadar bahwa aku belum menjawab permintaan maafnya yang pertama, saking kagetnya dan khawatir kameraku kenapa-napa. Dia tampak terburu-buru, jadi langsung berlalu begitu aku memaksakan senyum dan menjawab “oke”. Kupelototi dengan iri kamera berlensa tele panjang yang menggantung di bahunya. Hmm, fotografer beneran rupanya…
Malamnya, dengan mata sembab karena kantuk dan kepanasan seharian, aku berkutat di media center mem-publish berita hari itu. Dengan konsentrasi terbagi, kudengar selintas managerku memanggil dari belakang meminjam pulpen. Sambil memelototi foto-foto yang tengah kutransfer di komputer, korogoh2 tas mencari pulpen dan lalu menghampiri bosku untuk menyerahkan pulpen itu. Setengah bingung, kutatap bosku yang lalu menyodorkan pulpen itu ke sosok di sebelahnya. “Mas ini mau pinjem”, katanya tersenyum padaku lalu kembali menatap komputernya. Pandanganku beralih ke cowok yang sedang memegang pulpenku. “Pinjem ya mbak..?” tanyanya sopan. Aku hanya tersenyum dan mengangguk, tidak yakin apakah sempat mengucapkan “silakan” atau tidak, lalu buru-buru kembali ke kursiku. Entahlah apakah sikapku yang tidak sopan ini karena reaksi lambat atau benar-benar karena harus menyelesaikan tugasku secepatnya.
Tidak terlalu lama, aku masih menunggu proses upload berita selesai, ketika sudut mataku menangkap cowok itu bergerak menghampiriku. “Mbak, ini pulpennya”, ia setengah membungkuk mengulurkan pulpenku. Rasanya sikap badan yang terlalu berlebihan untuk sekedar berterima kasih. ”Terima kasih ya… mmm, mbak siapa?” tanyanya ramah. Baru kutatap sungguh-sungguh wajahnya. Kulitnya terang dan bersih, rambut hitam cepak. Pakaiannya santai dengan celana bermuda sebetis. Mata setengah sipit namun ramah itu memandangku intens. Seketika kurasakan wajahku menghangat, -reaksi yang berlebihan. Kusebut namaku singkat. “Oh, terima kasih ya mbak Nining”, tegasnya lagi sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan “sama-sama” menekukkan bibirku dengan kaku, berpikir dengan bingung apa perlunya bertanya nama kalau hanya untuk mengembalikan pulpen. Dan dia pun berlalu.
“Wartawan metro tv lho dia…” tiba-tiba suara managerku muncul di balik bahuku. “Lumayan juga ya…?” lanjutnya. Bisa kulihat nada dan senyum menggoda dari bosku. Aku hanya nyengir dan pura-pura kembali ke komputer. Dalam hati aku mengeluh panjang pendek. Setuju pada bosku dan menyesali reaksiku yang lambat dan bodoh itu, sama sekali tidak membuka jalan untuk apa pun. Kudengar sebuah suara di pikiranku mencela, pantesan aku masih sendiri sampai sekarang!
Besoknya, aku kembali bersiap-siap dengan kamera di sekitar garis finish kemarin yang sekarang sudah diganti menjadi gapura start untuk etape lomba selanjutnya. Cirebon luar biasa, hari masih jam 8-an, mendung pula, tapi keringatku sudah bercucuran saking panasnya. Sambil menunggu, aku duduk di kursi yang berjajar di samping panggung pendek tempat para pemenang menerima penghargaan nanti. Kepalaku menengok ke kiri, menembus panggung dan mengamati situasi di tenda kehormatan di sisi lain panggung.
“Kameranya nggak apa-apa?” Sepertinya pertanyaan itu ditujukan padaku. Baru aku sadar ada sosok jangkung yang bediri di dekat panggung, persis di arah mataku memandang. Ah, rupanya si jangkung dengan lensa tele canggih yang menyenggol kameraku kemarin. Tanpa mendekat dan tetap duduk, aku tersenyum dan menggeleng. Reaksi yang jauh dari ramah, aku sadar itu. Dia mengangguk, mengelus kameranya dan kelihatannya bernapas lega. “Sori ya…” lagi-lagi dia minta maaf sambil memandangku. Aku hanya tersenyum, mengangguk, dan menjawab singkat. ”Nggak apa-apa”.
Dengan santai dia pun duduk di pinggir panggung, tidak jauh dariku. Kugunakan kesempatan dia mengalihkan pandangan untuk duduk itu dengan mengalihkan pandanganku juga. So, obrolan itu pun berhenti sampai di situ. Rasanya aneh sekali, jarak kursiku dengan dia hanya sekitar 3 meter, tadinya ada percakapan dan sekarang saling diam. Aku tidak kenal dia, dan mungkin tidak harus kenal, tapi saling berdiam diri seperti ini? Aku tidak nyaman.
Pergerakan di tenda VIP memancing perhatianku. Dan aku terpaksa melewati panggung untuk ke sana. Kugamit lengan Hanna, mengajaknya ke tenda VIP, melewati cowo itu. Aku berjalan di sisi kanan, Hanna di sisi kiriku, menjadi penghalang antara aku dan panggung, antara aku dan dia. Silly, rite? Aku merasakan betapa tidak naturalnya aku.
Aku stand by di tenda VIP, menunggu kehadiran para pejabat. Kuedarkan pandangan dan tetap tidak menemukan dia yang semalam menanyakan namaku di media center. Hanna memutuskan untuk beredar, mencari Artemy Timofee, peserta asal Rusia yang berhasil mencuri hatinya kemarin :p. Beberapa menit kemudian, kudapati Hanna ngobrol dengan si jangkung berkamera canggih itu.
Di perjalanan pulang ke Bandung, Hanna menyampaikan sekali lagi permintaan maaf dari penyenggol kameraku kemarin. Aku mendengus, kesal pada diriku sendiri. Kelihatannya aku tidak memberi kesan baik di matanya. Sepertinya dia tidak yakin kameraku benar-benar tidak apa-apa dan aku benar-benar tidak marah.
Hhh…. Me and my slow reaction…
******
Filed under: Daily
Jrengggg !!! Waduh mba, reaksi lambat apa saking terpesonanya sama tuh cowo ?? Hihihi…. nyesel always come late
dirimu tinggal bilang ke Hanna untuk menyampaikan permintaan maafmu juga
ga enakkan masa sampe dia ngucapin berkali-kali sampe keesokan harinya. See??? mungkin ini kali mba
Hehehe… gaklah jeng, moment of truth-nya dah lewat.
Lagian, aku punya pengalaman traumatis sama wartawan dalam hal personal relationship :p