was a friend

single treeSeorang teman berduka minggu kemarin, dan mungkin masih hingga sekarang. Dia kehilangan seorang teman. Well, tepatnya dia dihilangkan dari daftar teman oleh seseorang yang dianggapnya teman. Aku sampai ternganga ketika temanku itu cerita tentang musibah yang dialaminya, -kehilangan teman bisa dianggap musibah kan? Nggak sampai rasanya akalku memikirkan bagaimana mungkin ada seseorang yang bisa ‘mencampakkan’ temannya hanya karena masalah perbedaan persepsi yang tidak terlalu prinsip. Maksudku, boleh-boleh aja sih kalau membuang teman karena dia jadi kriminil, atau karena dia betul-betul menyakiti kita sampai melebihi batas yang wajar sesuai norma perikemanusiaan… hallah! :D . Tapi kalau sampai berkata “Mulai besok tidak ada nama kamu lagi di hidupku” hanya karena si teman berusaha jujur dengan perasaannya…. well, thats too much, I guess.

Temanku itu bukannya cari gara-gara dengan berusaha jujur pada perasaannya. However, menjadi dekat dan menerima perhatian yang luar biasa dari seorang teman lawan jenis yang sudah menikah, tentu bukan suatu hal yang kita alami setiap hari kan? Orang bilang, dalamnya lautan bisa ditebak, tapi dalamnya hati siapa yang tahu? Dan “bermain-main” dengan orang yang statusnya tidak lagi sendiri jelas merupakan pilihan terakhir bagi temanku itu. Menyadari bahwa perasaannya telah berubah, ditambah lagi dengan sejarah si teman lawan jenis yang dahulu memang sempat menyimpan rasa padanya, temanku pun akhirnya berusaha bersikap tegas. Ia secara terus terang mengungkapkan bahwa perasaannya terpengaruh oleh perhatian-perhatian di cowo yang luar biasa, dan meminta agar si cowo menghentikan itu semua dan bersikap biasa saja padanya. Si cowo berkeras bahwa perasaannya sudah hilang dan segala perhatiannya selama ini adalah sesuatu yang wajar layaknya seorang teman biasa. Hmm, bisakah sesuatu seperti menelepon berjam-jam di larut malam dan melacak keberadaan seseorang hingga ke jadwal penerbangannya dianggap “biasa-biasa”? Ditambah lagi ia terkesan sembunyi-sembunyi dari pasangannya setiap kali sedang menelepon atau bertemu dengan temanku.

Akhirnya, kata-kata itu pun keluar dari mulutnya. Bukannya memaklumi dan membantu temanku menetralisir hatinya, dia malah memilih tidak lagi berteman dengannya. Aneh? Menurutku sih begitu…

Aku jadi ingat salah satu temanku di bangku kuliah dulu. Dia pintar, sangat friendly, dan jatuh cinta pada teman kami yang putri jenderal. Aku tidak tahu cerita detilnya, yang jelas cinta temanku pada putri sang jenderal itu bertepuk sebelah tangan. Dan menjauh adalah jalan yang dipilihnya. Aku sempat protes tidak setuju pada sikapnya waktu itu. Di otakku, menjauh setelah cinta ditolak adalah sesuatu yang menggelikan, pengecut, tidak sportif. Kalau belum pernah ditolak, bukan cowo namanya! Begitu dalihku kejam.

Temanku cuma tersenyum. “Nggak semua orang sekuat itu Ning”, katanya. Ia lalu menjelaskan, daripada tidak bisa dekat dengan cara yang diinginkannya, lebih baik menjauh sama sekali. Karena berada dekat dengan orang yang diinginkan, tanpa kesempatan untuk memiliki, tanpa peluang untuk mengekpresikan sayang, sama saja dengan mengiris hatinya sedikit demi sedikit. Aku membayangkan, mungkin seperti anak kecil yang melihat kue tart di etalase toko, namun tidak punya kesempatan untuk membeli dan menikmati lezatnya, barangkali memang lebih baik pulang saja. Jika ia berkeliaran di seputar etalase itu, ia tidak hanya akan terus memandang si kue, tapi juga mencium harumnya, dan bagaimana perasaannya melihat kue itu akhirnya dinikmati oleh orang lain? Ah… ya ya ya, mungkin terkadang “menjauh” memang lebih baik. Bukan karena tidak sportif, tapi demi kesehatan psikologis kita.

Aku bertanya-tanya, mungkinkah ini yang sebetulnya terjadi pada temanku di cerita yang pertama tadi? Si cowo menyadari bahwa dia tidak bisa menjadi dekat, menjadi teman, tanpa memberi perhatian lebih, tanpa menunjukkan sayang, tanpa memperlihatkan kepedulian yang dalam. Jadi, daripada tersiksa, lebih baik menjauh saja sekalian, lebih baik tidak kenal sama sekali. Bagaimana pun, setiap orang punya definisi yang berbeda tentang bagaimana seharusnya memperlakukan teman. Dan mungkin memang lebih baik kehilangan seorang teman, daripada kehilangan kehormatan dan seluruh hidup kita.

Be strong my friend :)

******

Advertisement

2 Responses

  1. Dari pengalamanku (yang udah tua nih), selama masih ada umur, akan ada kesempatan untuk rekonsiliasi sebagai teman nantinya dengan tingkat kedewasaan yang lebih tinggi untuk menjalin hubungan yang lebih berkualitas daripada yang lalu-lalu. Insiden ini akan menjadi bahan nostalgia yang manis. Just don’t do anything stupid.

  2. Well, menurutku sih, men-delete teman itu jelas something stupid :D .
    Gmn kalo ternyata umur kita nggak nyampe ke waktu ketika rekonsiliasi itu seharusnya terjadi? Rugi kan…?;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.