Sebuah dialog imajiner antara dua sahabat wanita
(-) : Ceritakan padaku tentang kriteria suami pilihan
(+) : Rosul sudah mengajarkan empat kriteria, yaitu fisik, keluarga baik-baik, kaya, dan soleh. Tapi kesolehan adalah yang utama
(-) : Tapi itu semua relatif
(+) : Ya memang, kalau menurut pandangan kita, karena sebenarnya tidak ada yang mutlak terbaik, yang ada hanya orang yang terbaik untuk kita, dan Allah Maha Mengetahui hal itu. Apa yang menurut kita baik untuk kita, belum tentu menurut Allah begitu, dan sebaliknya, yang menurut kita baik bisa jadi menurut Allah tidak baik, dan Allah Maha Benar.
(-) : Bagaimana kalau dia tidak tampan?
(+) : Asal dia soleh ….dia akan mengerti bahwa kebersihan sebagian dari iman dan bahwa Allah Yang Maha Indah menyukai keindahan, maka dia akan selalu berusaha menjaga penampilan, bersikap lemah lembut, tersenyum jika engkau menatapnya, dan memakai apa yang engkau sukai.
(-) : Meski pendidikannya di bawahmu?
(+) : Asal dia soleh… dia akan mengerti bahwa Allah meninggikan derajat orang-orang yang berilmu beberapa tingkat di atas orang-orang yang tidak berilmu, sehingga dia akan terus belajar, membekali dirinya dengan ilmu yang bermanfaat, baik ilmu dunia maupun ilmu akhirat dan menggunakannya di jalan Allah.
(-) : Meski kekayaannya di bawahmu?
(+) : Asal dia soleh…. dia akan paham bahwa seorang imam punya kewajiban menafkahi keluarga lahir dan batin, sehingga dia akan bekerja keras mencari nafkah, berusaha memberikan penghidupan yang lebih baik bagi keluarganya dari jalan yang halal.
(-) : Meski dia dari keluarga penjahat?
(+) : Asal dia soleh…. dia akan mengetahui yang haq dan yang bathil, dan akan memilih jalan yang diridhoi Allah
(-) : Jadi… asal dia soleh, itu cukup?
(+) : Seharusnya cukup, insya Allah.
—–
29/4/2010
To my dearest hubby, happy 5th month anniversary
luv u…^_^
[...] gak di update2 tapi post terakhirnya aku selalu suka baca berulang-ulang. Ijin copy paste disini ya MN [...]
hihihi… embeeer… aku memang bermasalah dengan konsistensi :p
monggo jeng… my pleasure