Reaksi Lambat

Jadi officer PR memang tidak pernah mampir di alam cita-citaku sejak dulu. Dan kuliah di Fikom, tidak serta merta membuatku bahkan melirik job yang satu ini. Bukan hanya karena profesi ini identik dengan dunia gemerlap dan external beauty, namun juga karena aku sadar betul bahwa rasanya aku tidak memiliki beberapa kompetensi yang dibutuhkan untuk menjadi PR sehandal yang ada di otakku. Misalnya saja soal kecepatan. Orang dengan profesi yang satu ini dituntut memiliki reaksi cepat akan banyak hal. Well, sementara pembawaanku dari lahir rasanya tidak sesigap itu. Aku pribadi sih mengkategorikannya sebagai “anggun”, tapi ibuku dengan kejamnya memvonis “itu bukannya anggun, tapi klemar-klemer (bhs Jawa = lelet)”. Ugh!

Dan lagi-lagi itu yang terjadi saat aku meliput event balap sepeda keliling Jawa-Bali yang disponsori oleh perusahaan tempatku mengais nafkah kemarin. Event ini diikuti oleh atlit-atlit balap sepeda dari dalam dan luar negeri, maka wajar jika cukup banyak media massa yang terlibat dalam eksposnya. Kalau sudah harus meliput di event besar seperti ini, aku hampir selalu minder. Tidak hanya karena “alat perang” yang kutenteng sangat standar -Nikon D60- dan jauh lebih terbatas dibanding yang ditenteng para wartawan dan fotografer profesional yang berkeliaran di event tersebut, tapi juga karena perawakanku yang juga standar. Dengan tinggi badan tidak lebih dari 160 cm, aku hampir selalu kesulitan berebut posisi strategis untuk mendapat angle foto paling bagus. Belum lagi cuaca panas kota Cirebon di siang hari terik yang membakarku sementara menunggu para peserta mencapai garis finish di depan balaikota Cirebon. Rasanya ingin kuingkari betapa aku mendadak jadi kikuk sendiri, tidak nyaman dengan situasi ini.

Untunglah sun glasses-ku mampu menyamarkan pandanganku yang nanar mengamati para wartawan profesional yang berseliweran. Mereka begitu muda, energik, tampak profesional dengan segala kesigapannya…. kerenlah pokoknya. Ugh, bikin sirik aja! Mungkin saking terpesonanya, aku lupa memegangi kamera yang tergantung di pinggangku dengan tangan. Dan betul saja… Dukk! Tiba-tiba sesuatu yang keras menyenggol lensa kameraku. Spontan aku mengaduh setengah menjerit, ngeri membayangkan apa yang terjadi andai kameraku kenapa-napa.

“Sori…sori mbak!” ada lengan yang terulur menyentuh kameraku dari sosok jangkung yang rasanya tadi memang melintas di depanku. Disentuhnya sedetik kamera yang masih menggantung di pinggangku. “Sori ya mbak…” ulangnya bersungguh-sungguh. Aku jadi sadar bahwa aku belum menjawab permintaan maafnya yang pertama, saking kagetnya dan khawatir kameraku kenapa-napa. Dia tampak terburu-buru, jadi langsung berlalu begitu aku memaksakan senyum dan menjawab “oke”. Kupelototi dengan iri kamera berlensa tele panjang yang menggantung di bahunya. Hmm, fotografer beneran rupanya…

Malamnya, dengan mata sembab karena kantuk dan kepanasan seharian, aku berkutat di media center mem-publish berita hari itu. Dengan konsentrasi terbagi, kudengar selintas managerku memanggil dari belakang meminjam pulpen. Sambil memelototi foto-foto yang tengah kutransfer di komputer, korogoh2 tas mencari pulpen dan lalu menghampiri bosku untuk menyerahkan pulpen itu. Setengah bingung, kutatap bosku yang lalu menyodorkan pulpen itu ke sosok di sebelahnya. “Mas ini mau pinjem”, katanya tersenyum padaku lalu kembali menatap komputernya. Pandanganku beralih ke cowok yang sedang memegang pulpenku. “Pinjem ya mbak..?” tanyanya sopan. Aku hanya tersenyum dan mengangguk, tidak yakin apakah sempat mengucapkan “silakan” atau tidak, lalu buru-buru kembali ke kursiku. Entahlah apakah sikapku yang tidak sopan ini karena reaksi lambat atau benar-benar karena harus menyelesaikan tugasku secepatnya.

Tidak terlalu lama, aku masih menunggu proses upload berita selesai, ketika sudut mataku menangkap cowok itu bergerak menghampiriku. “Mbak, ini pulpennya”, ia setengah membungkuk mengulurkan pulpenku. Rasanya sikap badan yang terlalu berlebihan untuk sekedar berterima kasih.  ”Terima kasih ya… mmm, mbak siapa?” tanyanya ramah. Baru kutatap sungguh-sungguh wajahnya. Kulitnya terang dan bersih, rambut hitam cepak. Pakaiannya santai dengan celana bermuda sebetis. Mata setengah sipit namun ramah itu memandangku intens. Seketika kurasakan wajahku menghangat, -reaksi yang berlebihan. Kusebut namaku singkat. “Oh, terima kasih ya mbak Nining”, tegasnya lagi sambil tersenyum. Aku hanya mengangguk dan mengucapkan “sama-sama” menekukkan bibirku dengan kaku, berpikir dengan bingung apa perlunya bertanya nama kalau hanya untuk mengembalikan pulpen. Dan dia pun berlalu.

“Wartawan metro tv lho dia…” tiba-tiba suara managerku muncul di balik bahuku. “Lumayan juga ya…?” lanjutnya. Bisa kulihat nada dan senyum menggoda dari bosku. Aku hanya nyengir dan pura-pura kembali ke komputer. Dalam hati aku mengeluh panjang pendek. Setuju pada bosku dan menyesali reaksiku yang lambat dan bodoh itu, sama sekali tidak membuka jalan untuk apa pun. Kudengar sebuah suara di pikiranku mencela, pantesan aku masih sendiri sampai sekarang!

Besoknya, aku kembali bersiap-siap dengan kamera di sekitar garis finish kemarin yang sekarang sudah diganti menjadi gapura start untuk etape lomba selanjutnya. Cirebon luar biasa, hari masih jam 8-an, mendung pula, tapi keringatku sudah bercucuran saking panasnya. Sambil menunggu, aku duduk di kursi yang berjajar di samping panggung pendek tempat para pemenang menerima penghargaan nanti. Kepalaku menengok ke kiri, menembus panggung dan mengamati situasi di tenda kehormatan di sisi lain panggung.

“Kameranya nggak apa-apa?” Sepertinya pertanyaan itu ditujukan padaku. Baru aku sadar ada sosok jangkung yang bediri di dekat panggung, persis di arah mataku memandang. Ah, rupanya si jangkung dengan lensa tele canggih yang menyenggol kameraku kemarin. Tanpa mendekat dan tetap duduk, aku tersenyum dan menggeleng. Reaksi yang jauh dari ramah, aku sadar itu. Dia mengangguk, mengelus kameranya dan kelihatannya bernapas lega. “Sori ya…” lagi-lagi dia minta maaf sambil memandangku. Aku hanya tersenyum, mengangguk, dan menjawab singkat. ”Nggak apa-apa”.

Dengan santai dia pun duduk di pinggir panggung, tidak jauh dariku. Kugunakan kesempatan dia mengalihkan pandangan untuk duduk itu dengan mengalihkan pandanganku juga. So, obrolan itu pun berhenti sampai di situ. Rasanya aneh sekali, jarak kursiku dengan dia hanya sekitar 3 meter, tadinya ada percakapan dan sekarang saling diam. Aku tidak kenal dia, dan mungkin tidak harus kenal, tapi saling berdiam diri seperti ini? Aku tidak nyaman.

Pergerakan di tenda VIP memancing perhatianku. Dan aku terpaksa melewati panggung untuk ke sana. Kugamit lengan Hanna, mengajaknya ke tenda VIP, melewati cowo itu. Aku berjalan di sisi kanan, Hanna di sisi kiriku, menjadi penghalang antara aku dan panggung, antara aku dan dia. Silly, rite? Aku merasakan betapa tidak naturalnya aku.

Aku stand by di tenda VIP, menunggu kehadiran para pejabat. Kuedarkan pandangan dan tetap tidak menemukan dia yang semalam menanyakan namaku di media center. Hanna memutuskan untuk beredar, mencari Artemy Timofee, peserta asal Rusia yang berhasil mencuri hatinya kemarin :p. Beberapa menit kemudian, kudapati Hanna ngobrol dengan si jangkung berkamera canggih itu.

Di perjalanan pulang ke Bandung, Hanna menyampaikan sekali lagi permintaan maaf dari penyenggol kameraku kemarin. Aku mendengus, kesal pada diriku sendiri. Kelihatannya aku tidak memberi kesan baik di matanya. Sepertinya dia tidak yakin kameraku benar-benar tidak apa-apa dan aku benar-benar tidak marah.

Hhh…. Me and my slow reaction…

******

Demam Twilight

Gilaaaaaaaa….

Gara-gara baca novel Twilight karya Stephenie Meyer, aku praktis merasa kembali jadi diriku di 5-10 tahun lalu, saat masih abg, dan begitu emosionalnya menggilai selebritis atau tokoh-tokoh fiktif dalam film. Belum selesai membaca Twilight, aku sudah langsung memborong buku ke dua dan tiganya, yaitu New Moon dan Eclipse. Alhasil, aku nyaris jadi alien di rumah, melalap 3 novel setebal 500-680an halaman itu dalam waktu 4 hari, hampir melewatkan aktivitas manusia normal : makan dan mandi. Salute to tante Stephenie Meyer :)

Awalnya males banget baca Twilight setelah baca sinopsis di sampul belakangnya karena mengambil genre roman-drama-misteri antara makhluk mitos (vampir) dengan gadis abg usia 17 tahun. Tapi gara-gara seharian di Kereta dalam perjalanan Surabaya-Bandung dan aku kehabisan bahan bacaan, akhirnya kupinjam juga novel itu dari Hanna, teman seperjalananku. Dan… well… menarik ternyata. Selanjutnya, malah jadi aku yang lebih bernafsu hunting info apa pun tentang Twilight dibanding Hanna yang 6 tahun lebih muda dariku, hahahaha…:D

Jadi ingat, terakhir kali aku seperti ini adalah ketika serial Meteor Garden menyerang tanah air. Saat itu aku masih di tahun-tahun awal kuliah. Geli sendiri kalau ingat saat itu setiap Selasa pagi (Meteor Garden ditayangkan setiap Senin malam di salah satu TV swasta), di kampus pasti terjadi “bursa Meteor Garden”. Cewe-cewe berkumpul membicarakan episode yang baru ditonton semalam dengan begitu ramai, mata berbinar, bahkan tak jarang terdengar jeritan-jeritan kecil penuh emosional akibat terlalu menghayati kisah serial asal Taiwan itu. Dan aku, tentu saja, tergabung dalam bursa itu. Tidak cukup hanya di kampus, setiap tabloid atau majalah yang memuat artikel, foto, sinopsis, atau apapun tentang MG pasti dibeli. Setiap info apa pun yang didapat tentang serial itu atau kehidupan bintang-bintangnya, pasti langsung disebarkan ke anggota bursa yang lain. Searching materi tugas kuliah di internet hanya jadi sampingan, dengan misi utama adalah tentu saja memelototi foto-foto bintang-bintang MG. Soundtract-nya? Jangan ditanya. Tentu saja jadi hits di top 40 radio-radio anak muda.

Seperti halnya MG yang “menjual mimpi”, Twilight pun tidak jauh berbeda. Jika MG masih berpijak di bumi dengan kisah anak manusia, Twilight dan serialnya menawarkan dunia imaji dengan mengisahkan roman antara manusia (Bella Swan) dengan dua makhluk mitos yaitu vampir (Edward Cullen) dan werewolf (Jacob Black). Bella, gadis manusia berusia 17 tahun yang suka iklim hangat namun berkulit pucat dan punya pemikiran unik namun cenderung ceroboh, jatuh cinta pada Edward, vampir dengan ketampanan yang tidak manusiawi yang haus akan darah Bella. Edward dan keluarga vampirnya berbeda dengan kaumnya yang lain, mereka “vegetarian” – memilih untuk tidak meminum darah manusia dan meminum darah binatang sebagai gantinya. Namun kehadiran Bella di kota kecil tempat Edward tinggal dengan tenang membaur bersama manusia entah bagaimana membangkitkan dahaganya atas darah gadis itu secara spesifik. Edward punya kemampuan istimewa mampu membaca pikiran setiap orang, namun anehnya hanya pikiran Bella yang tidak bisa didengarnya. Keunikan-keunikan inilah yang menggiring Bella dan Edward kemudian terlibat roman cinta bernuansa misteri dan berbalut ketegangan. Terlebih ketika kemudian Bella harus menghadapi vampir-vampir yang memburu darahnya. Pembelaan Edward dan keluarganya, serta Jacob -sahabat baik Bella yang mencintai Bella, yang kemudian berubah menjadi werewolf, musuh abadi vampir- menjadi intrik dalam novel yang mampu memberikan efek candu bagi pembaca, -bagiku setidaknya.

Vampir di kisah ini, mematahkan mitos-mitos vampir klasik yang selama ini kudengar. Seperti yang selama ini kubaca dan kotonton di film, Edward dan kaumnya dilukiskan memiliki impossibly beauty, garis wajah sempurna, tatapan menghipnotis, senyum menawan, suara merdu membius, dan gerak tubuh anggun. Predator hebat kan? Memiliki daya tarik sebegitu rupa untuk memancing calon mangsanya, hiiiyyy…. Mereka juga punya kecepatan dan kekuatan fisik seperti superman. Namun bedanya, di kisah ini, para vampir tidak bertaring. Mereka tidak tidur di peti mati dan tidak di mana pun, tidak mati oleh bawang putih, pasak kayu (seperti di serial Buffy the vampire slayer), atau pun salib, -Carlisle, ayah angkat vampir Edward yang di kehidupan manusianya adalah putra seorang pendeta bahkan memasang salib di rumahnya. Mereka juga menghindari terekspos sinar matahari. Namun bukan karena sinar matahari menyebabkan mereka terbakar jadi abu, tapi karena kulit pucat mereka akan berpendar-pendar seperti pelangi jika terpajan sinar matahari, -pasti akan menarik perhatian manusia dan membuka identitas mereka jika itu terjadi. Sebagai vampir vegetarian, mata Edward berwarna keemasan dan berubah jadi hitam jika ia sedang haus, sedangkan mata vampir peminum darah manusia berwarna merah.

Trus, di mana sih sebenarnya letak candu-nya?

Kisah romannya? Mungkin. Intrik dan lika-liku yang hampir mustahil ada di dunia nyata? Bisa jadi. Ketampanan Edward yang digambarkan sempurna bak patung pahatan dewa? Its just a bonus…:) The way Edward loves Bella? Yup, exactly !

I personally think. the sexiest man on earth is a man who loves his mate unselfishly, unconditionally, and nicely, with all his loyalty and strenght. Ketampanan Edward nggak akan membius terlalu dalam jika dia tidak mecintai Bella sedemikian rupa. Kekuatan Edward juga hanya cukup untuk dikagumi saja jika dalam kisah itu dia tidak menggunakannya untuk melindungi Bella begitu rupa. Dengan pemujaan, pembelaan, dan cinta sebegitu dalam, siapa pun nggak akan butuh yang lain lagi.

Ah, yang seperti itu kan hanya ada di novel dan film. Benarkah? Well… vampir dan werewolf-nya sih mungkin iya, but that kind of love…? Rasanya aku masih berani berharap hal seindah itu masih ada di dunia ini… :)

******

the missing guy

“Bisa ketemu dengan bu Nining?”.

Mendengar ada yang menyebut namaku, langsung kutengok arah pintu. Ah, terhalang daun pintu rupanya. Segera setelah managerku menyilakan aku keluar, kuhampiri sosok di balik pintu itu. Dan mataku pun membelalak hampir tak percaya. Sosok yang hampir dua tahun menghilang itu kini hanya beberapa jengkal di hadapanku, menjabat tanganku erat sambil tersenyum lebar… dan rasanya hampir memelukku. Where have you been, missing guy…?

Dewasa, bijak, mandiri, smart, dan sangat menyenangkan diajak bicara tentang masalah apa pun. Begitulah dia di mataku. Jika curhat padanya, hatiku pasti akan merasa lebih baik. Jika bertanya padanya, pasti ada solusi yang nyata. Bahkan dia juga yang mengajariku cara menghadapi psikotest, TOEFL, dan interview kerja hingga semua bisa kulalui dengan baik dan aku diterima bekerja di kantorku yang sekarang. I owe him that one… Hampir semua orang di kantor lamaku berkeras mengira bahwa hubunganku dengan dia lebih dari sekedar teman. He’s like a brother I never had, dalihku. Bohong? Iyalah :D . The truth is, I do had a crush on him…

Tapi sebenarnya hubunganku dengannya memang bukan hubungan cinta. Dekat? Iya. Tapi kadang aku merasa seperti berhadapan dengan tembok jika bicara dengannya. Ia sulit ditebak. Suatu pagi tiba-tiba meneleponku untuk bilang bahwa dia baru bermimpi tentang aku, lalu hari berikutnya SMS ku tak dibalas. Ia betah berjam-jam meneleponku meski harus berdiri di dekat pintu kamar kostnya supaya sinyal tidak putus-putus, tapi kemudian ia bercerita bahwa ia belum berencana menjalin komitmen dengan siapa pun. Pendeknya, aku jadi merasa bodoh sendiri karena kadang berharap macam-macam padanya.

Awal tahun lalu,  tiba-tiba ia menghilang. Teleponnya tidak aktif, dan pindah dari tempat kostnya. Dan aku bukannya tanpa sebab mencarinya, tapi karena dia punya urusan yang selesai denganku. Kutunggu hingga akhir tahun, saat ia menjanjikan akan membereskan semua urusannya denganku, tapi tidak juga ada kabar berita. Bayanganku tentang sosoknya yang sempurna mulai buram. Rasanya “lari” seperti ini bukan dia. Aku tahu dia punya kerabat yang tinggal tidak jauh dari rumahku, aku juga tahu dia punya kakak yang bekerja di perusahaan yang sama denganku meski lain kota. Aku bisa saja mendatangi mereka dan menanyakan dia, menagih hakku, tapi entah kenapa aku tidak bisa. Aku lebih suka berpikir “mungkin dia kena amnesia’ or something like that. Dan setelah hampir dua tahun berlalu sejak menghilang, kini tiba-tiba dia muncul di pintu kantorku, segar bugar, dan masih ingat namaku.

Tidak banyak yang dia bicarakan pada pertemuan mengejutkan itu. Dia minta maaf telah menghilang sekian lama dan melalaikan janjinya padaku. Sama sekali tidak menjelaskan kenapa dia menghilang dan baru muncul sekarang. Hanya bertukar kabar dan nomor telepon, lalu menyinggung sedikit tentang kabar beberapa teman di kantorku yang lama.

“Oya, saya udah nikah Ning”, katanya kemudian sambil berbalik menanyakan statusku. Hmm, kejutan kedua hari ini. Kesadaranku langsung pulih. Aku memang sudah menyerah menghadapi cowok tembok ini sejak sebelum ia menghilang. Ketika kemudian ia menghilang dan meninggalkan urusan yang belum selesai, aku sudah mempersiapkan diri untuk mendengar berita apa pun. Dia amnesia, dia sakit parah sehingga tidak berdaya menghubungiku, dia tidak di dunia ini lagi (yang ini terdengar kejam, tapi bukan mustahil terjadi kan? ), dan tentu saja… dia menikah.

“Nantilah kita cerita-cerita lagi,” ucapnya sambil beranjak pamit. Beberapa saat kemudian, SMS dari nomornya yang baru mampir di inboxku. Lagi-lagi ia minta maaf karena telah melalaikan janji dan berterima kasih atas bantuanku di masa lalu. Namun ketika beberapa hari kemudian ia kuSMS untuk memberitahukan bahwa urusannya denganku telah benar-benar tuntas kini, nomor itu tidak lagi aktif.

Ah, dan mengertilah aku… Dia ingin menuntaskan semua, benar-benar tuntas!

Ingatanku melayang ke jeda 3 tahun lalu, saat aku penuh harap cemas menanti kabar final diterima atau tidaknya aku bekerja di kantorku yang sekarang, sebuah pekerjaan mapan yang jadi impian hampir semua temanku, yang anehnya tak pernah kubayangkan akan jadi milikku. Maksudku -bagiku- ini seperti durian runtuh. Dan saat itu aku tengah dekat-dekatnya dengan dia. Begitu berartinya dia buatku, sampai-sampai dalam sujudku aku “menawar” pada Allah. Andai tidak berjodoh dengan pekerjaan yang tengah kunanti, aku berharap Allah menghiburku dengan memberikan dia sebagai pendampingku. Dan kurasa jelas sekarang, untukku Allah telah memilihkan pekerjaan ini, dan bukan dia. I guess I’ve traded him… with my job.

******

the one

Tempo hari, aku baru saja membaca buku karya Asma Nadia, judulnya “La Tahzan for the Broken Hearted Muslimah”. Aiiiiiiihhh…. Buku itu berisi kumpulan kisah para penulis perempuan seputar patah hati akibat virus merah jambu yang ternyata kadang tak seindah namanya berikut hikmah yang ada di balik kenyataan pahit tentang cinta. Dan hari ini, seorang sahabat yang tengah menantikan kelahiran putra pertamanya tiba-tiba bertanya apakah kini aku telah memiliki tambatan hati? Gubrakkk… dan aku pun seketika merasa patah hati…

Kujawab “Kalau hanya sekedar pria yang bilang suka, cinta, sayang, atau pun ungkapan dan sikap-sikap flirting lain sih mungkin ada, tapi pastinya aku nggak bisa “menghitung” mereka sebagai “the one”"

Wah, kayaknya susah ya jadi “the one”nya Nining…:)”, jawabnya pendek.

Krik krik krik… jempolku mendadak kram, ups… tampaknya otakku juga..

Susah nggak ya…?

Ah, nggak kok.. Kuyakinkan diriku.

Harus soleh? Tentu…kan untuk jadi imamku dunia akhirat :)

Kaya? Nggak harus, asal berpotensi kaya, hihihi… just kidding!

Ganteng? Hmm… itu kan relatif, minimal kayak Christian Sugiyono lah… jreng jreng! Pliss deh, nggaklah, aku kan juga nggak secantik Titi Kamal!

Trus…? Entahlah… tanya aja sama Dia :) Mungkin aku sebegitu istimewanya, sampai-sampai Dia tengah memoles “the one” ku itu di sana sini, supaya pantas bersanding denganku… hihihi…

Aku jadi ingat salah satu kutipan dalam buku yang baru kubaca itu…

“Hanya orang istimewa yang mau menikah denganku, kalau orang istimewa itu tidak kutemukan, tidak apa-apa, tapi aku tetap yakin dia ada”

Boleh kan narsis dikiiiiiiit…? :)

a must seen movie

Setelah booming Lord of The Rings, baru kali ini aku menonton ulang film yang sama 2 hari berturut-turut. Sejujurnya aku sempat mengira film ini nggak “segitunya”, makanya baru kutonton sekarang setelah dirilis sejak Februari lalu. Secara judulnya pun tampak klise. Siapa sangka, its really nice, sangat menyentuh, dan menurutku its a must seen movie, terutama bagi para pria…:p

Cukup banyak tulisan hasil resensi film ini, silakan googling saja kalau berminat. Intinya, film ini mengisahkan betapa seorang pria (Gerry) mencintai istrinya (Holly) sebegitu dalam, sehingga di saat-saat akhir hidupnya pun ia masih sempat merancang sebuah panduan melalui sekumpulan surat demi untuk menguatkan sang Istri sepeninggalnya. Holly yang patah hati berat karena ditinggal mati Gerry akibat kanker otak, akhirnya menemukan kembali diri dan hidupnya karena surat-surat dari Gerry yang didapatkannya setiap bulan selama setahun sesudah Gerry meninggal.

Ada dua, moment paling menyentuh dalam kisah ini. Yang pertama adalah saat surat Gerry menyuruh Holly bersenang-senang dengan menyanyi di karaoke tempat mereka biasa hang out bersama teman-teman. Gerry yang mantan penyanyi pub, hampir selalu jadi bintang karaoke, sebaliknya Holly lebih suka menonton. Lagipula ia pernah punya pengalaman buruk, jatuh di atas panggung gara-gara memenuhi provokasi Gerry untuk tampil. Demi memenuhi isi surat Gerry, Holly pun akhirnya tampil. Scene awal memperlihatkan penonton karaoke yang penuh, juga hadir teman-teman Holly untuk memberi dukungan. Namun saat musik mulai terdenga, Holly tiba-tiba hanya bisa melihat satu penonton yang memandangnya penuh cinta, Gerry. Meski dengan mata berkaca-kaca dan suara yang hampir parau, Holly berhasil menyelesaikan lagu yang dulu selalu dinyanyikan Gerry sambil terus menatap Gerry hingga lirik terakhir…. I love you till the end…  Ooowwwwhhh….

Adegan lain yang paling menyentuhku adalah ketika di surat ke sekiannya, Gerry ternyata telah mengatur liburan untuk Holly dan dua sahabat wanitanya, Denise dan Sharon, ke tanah kelahiran Gerry yang sekaligus tempat pertemuan pertama Gerry dan Holly, Irlandia. Di sana, Holly mengunjungi orangtua Gerry, dan ajaibnya, Gerry sudah bisa menebak bahwa Holly akan mengunjungi orangtuanya, maka ia pun menitipkan sebuah surat pada orangtuanya untuk diberikan pada Holly jika ia datang. Di surat itu, Gerry mengenang pertemuan pertama mereka, saat Holly mengaku tersesat. “But you didnt looked lost at all… not to me“, kata Gerry dalam suratnya. Saat itu Holly masih sekolah di jurusan seni. “My business is to create…” kata Holly waktu itu. Gerry bermaksud mengingatkan bahwa sejak awal Holly tidak pernah berniat menjadi karyawan atau bekerja pada orang lain. Dengan latar belakang seninya, Holly bisa menciptakan sesuatu untuk hidup, dan bukannya menjalani pekerjaan yang dibencinya selama ini.  ”So go home, look for a sign, I’ll help you…” tulis Gerry tanpa lupa membubuhkan kalimat yang selalu ada di akhir surat-suratnya… P.S. I Love You. 

Yang kusuka, meskipun intinya bercerita tentang “kehilangan”, karakter Gerry yang riang dan lucu namun romantis, Holly yang agak-agak lemot, dan para figur pendamping yang nggak kalah gokil, mampu membuat film ini mengalir ringan dan mengundang senyum penonton di banyak adegan, dan yang pasti, meninggalkan kesan cukup mendalam, setidaknya untukku….:)

So, for you my friends who are interested in love, I highly recommend this movie for you to watch…

*****

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.